Situs Trowulan | Peninggalan Kejayaan Majapahit

ristiancandra.blogspot.com
"Situs Trowulan"
Situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang sangat menarik ini, diperoleh dari hasil penelitian yang sangat panjang. Pertama kali dilakukan oleh Wardenaar tahun 1815.


Ia mendapat tugas dari Raffles untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto. hasil kerja Wardenaar tersebut dicanrtumkan oleh Raffles dalam bukunya "History Of Java"  (1817) yang menyebutkan bahwa berbagai obyek arkeologi yang berada di Trowulan adalah sebagai peninggalan dari Kerajaan Majapahit.

Situs yang luasnya 11 x 9 km, cakupannya meliputi wilayah Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno di Kabupaten Jombang. Situs bekas kota kerajaan Majapahit ini dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari 3 jajaran gunung ( Penanggungan, Welirang dan Anjasmoro ), sedangkan kondisi Geografis daerah Trowulan mempunyai kesesuaian lahan pemukiman. Hal ini didukung oleh antara lain topografi yang landai dan air tanah yang relatif dangkal. Sebagai bekas kota, di Situs Trowulan dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan arkeologis baik berada di bawah maupun di permukaan tanah yang berupa : artefak, ekofak serta fitur.

Peneliti berikutnya adalah W.R. Van Hovell (1849), J.V.G Brumund dan Jonathan Rigg. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam "Journal Of The Indian Archipelago and Eastern Asia".
J. Hageman
menulis tentang Trowulan dengan judul " Toelichting over den Ouden Pilaar van Majapahit " (1859). R.D.M Verbeek mengadakan kunjungan ke Trowulan dan menerbitkan laporannya dalam artikel Oudheden van Majapahit in 1815 en 1887, yang termuat dalam TBG XXXIII tahun 1889.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh R.A.A Kromodjojo Adinegoro, seorang Bupati Mojokerto (1894-1916) yang sangat menaruh perhatian terhadap peninggalan arkeologi di Trowulan. Ia menggali Candi Tikus dan juga merintis pembangunan Museum Mojokerto yang berisi benda koleksi arkeologis peninggalan Majapahit. J. Knebel seorang anggota Comissie voor Oudheidkundig Orderzoek op Java en Madura pada tahun 1907 melakukan inventarisasi peninggalan arkeologi di Trowulan. Selanjutnya N.J Krom mengulas peninggalan Majapahit di Trowulan dalam karyanya Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst (1923). Penelitian terhadap Situs Trowulan lebih insentif dilakukan setelah didirikan Oudheidkundige Vereeneging majapahit (OVM) tahun 1924 oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro bekerjasama dengan seorang belanda bernama Ir. Henry Maclaine Pont dan kemudian berkantor di Trowulan. Selanjutnya kantor tersebut dijadikan museum yang memamerkan benda-benda peninggalan Majapahit.

Antara tahun 1921-1922, Maclaine Pont mengadakan penggalian-penggalian di Trowulan dengan maksud mencocokkan uraian dalam Kitab Negarakertagama. Hasil penelitiannya tersebut kemudian menghasilkan Sketsa rekonstruksi Kota Majapahit di Trowulan.

Stutterheim yang melakukan penelitian tentang bentuk Ibukota Kerajaan Majapahit berpegang pada Kitab Negarakertagama Pupuh VIII-XIII dan menyimpulkan bahwa tata kota Kraton Majapahit dapat dianalogikan dengan Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Lebih jauh disebutkan bahwa bangunan yang terdapat di dalam kompleks kraton mirip dengan bangunan kompleks puri di Bali (Stutterheim,1948).

Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi nasional ( Puslit Arkenas ) pada tahun 70-an hingga 1993. Puslit Arkenas mencoba mencari bukti-bukti tentang kota melalui penggalian arkeologis yang ditentukan atas dasar nama tempat dalam Kitab negarakertagama atau atas dasar penemuan baru yang ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk. Strategi yang dikembangkan waktu itu adalah penelitian sporadis. Namun sejauh ini penelitian belum memberikan gambaran utuh mengenai keseluruhan kota Majapahit seperti diuraikan Prapanca dalam puja sastranya Negarakertagama.

Pemahaman bentuk Situs Trowulan secara lebih luas baru diperoleh setelah dilakukan foto udara oleh Tim Geografi Universitas GajahMada yang berhasil menunjukkan Situs Trowulan sebagai kota berparit. Pelestarian yang dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah Purbakala waktu itu telah menghasilkan rencana induk pelestarian dengan maksud melindungi Situs penting di Trowulan. tahun demi tahun Situs bangunan digali, dipugar, dipelihara dan dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Berdasarkan kegiatan arkeologis yang dilakukan , menunjukkan bahwa Situs Trowulan merupakan Situs penting dalam dunia Arkeologi di Indonesia.

⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧⇧
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

~Welcome To Do Follow Blog~
Terima Kasih telah berkunjung dan membaca Artikel ini, Silahkan :
✍ Berikan Komentar sesuai atau relevan dengan isi atau topik Artikel yang dibahas.
✍ Komentar yang terdeteksi SPAM dengan terpaksa akan dihapus.

Next Prev Home